Thursday, October 3, 2019

PEMUDA PEKALONGAN TURUNKAN BENDERA JEPANG

" Peninggalan sejarah merupakan benda-benda budaya manusia dari masa yang telah lampau. Peninggalan sejarah merupakan aset yang sangat penting bagi bangsa . "

Dan tahukah kalian sejarah kota kita tercinta ini , yaitu kota Pekalongan , peninggalannya dan kisah-kisah perjuangan masyarakat Pekalongan , khusunya pemuda saat itu dalam usahanya membebaskan diri dari ikatan dan cengkraman penjajah ?

Berbagai kejadian penting , serta peristiwa bersejarah telah dialami . Korban jiwa raga dan harta tidak lagi ternilai harganya. Ini semua adalah risiko dan revolusi suatu bangsa yang ingin merdeka.

Kita sebagai rakyat Pekalongan , seharusnya mengetahui dan mengerti bagaimana ,apa dan seberapa besar darma bakti para pendahulu , generasi pelopor dalam mencapai cita-cita bangsanya yang luhur dan mulia .

Banyak hari-hari bersejarah yang selalu kita peringati pada saat terntentu . Kapan dan bulan apa saja ? Hari ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia , Hari Pahlawan , Hari Sumpah Pemuda, Hari Ibu , Hari Kartini dan masih banyak lagi kan ? Yang penting kita harus mengerti , mengapa semua itu diperingati , apa latarbelakangnya ? Agar kita bisa mengambil makna besar .

Tetapi kejadian yang paling bersejarah bagi kota ini adalah peristiwa 3 Oktober 1945 . Bagaimana para pemuda yang sudah haus akan kebebasan , bersama-sama dan dengan tujuan yang sama menyerbu tentara Jepang . Tentu saja , kesemuanya terukir dari hal-hal tersebut diatas ialah nilai-nilai perjuangan yang luhur . Sekarang , marilah kita pelajari bersama peristiwa 3 Oktober yang bersejarah tersebut.

3 Oktober 1945, Ada apa gerangan ?
3 Oktober 1945 merupakan hari bersejarah bagi kota Pekalongan . Kejadian bermula saat di karisedenan Pekalongan di bentuk Komite Nasional Indonesia Daerah , sebagai badan eksekutif untuk membantu kepala daerah . KNI (Komite Nasional Indonesia) untuk karisedenan Pekalongan sendiri terbentuk pada tanggal 28 Agustus 1945 , yang diketuai oleh Dr. Sumbadji.

Residen Pekalongan waktu itu dijabat oleh Mr. Besar . Pemerintahan pusat biasanya mengangkat Fuku Syuchokan yang dalam bahas Indonesianya berarti Wakil Residen . Jabatan residen ini merupakan jabatan fungsionaris tertinggi yang semula hanya dipegang oleh orang Jepang saja. Pengangkatan Mr. Besar sebagai Residen yaitu pada tanggal 23 September 1945 .

Perundingan Pengambilalihan Kekuasaan
Gerakan pengambilan kekuasaan di beberpa daerah dimulai. Bahkan di Purwoketo , tentara Jepang sudah menyerahkan kekuasaannya kepada Residen Banyumas. Sedangkan di Pekalongan sendiri baru disepakati bahwa pengambilan kekuasaan dengan cara perundingan  akan segera dilaksankan. Dr. Sumbadji menjadi utusan untuk menghadap Syuchokan Tokokami , untuk menentukan kapan dan dimanakah akan diadakan perundingan dengan tokoh-tokoh masyarakat .

Akibat situasi yang memanas di Pekalongan dan agar tidak terjadi insiden yang tidak diinginkan , akhirnya pihak Jepang mau berunding dengan pihak tokoh masyarakat di Pekalongan . Perundingan dilaksanakan pada tanggal 1 Oktober 1945 pukul 10.00 bertempat di Kantor Karisedenan Pekalongan. Namun perundingan tersebut ditunda oleh pihak Jepang . Rakyatpun makin marah . Akhirnya , perundingan kembali dilanjutkan pada tanggal 3 Oktober 1945 , juga pada pukul 10.00 pagi , di Markas Kempetai (sekarang Masjid Syuhada').

Dalam perundingan tersebut , masyarakat Pekalongan meminta tiga tuntutan :
1. Pemindahan kekuasan dan pemerintahan Jepang kepada pihak Indonesia agar dilaksanakan dengan damai dan secepatnya.
2. Menyerahkan semua senjata yang ada ditangan Jepang.
3. Meminta jaminan kepada pihak Jepang bahwa mereka akan dilindungi .

Perundingan berlangsung lama , masyarakat yang saat itu menyaksikan serta  memberi dukungan dan semangat kepada pihak Indonesia, sudah tidak sabar ingin mengusir Jepang dari Pekalongan. Dukungan masyarakat inilah yang mencerminkan manifestasi rasa kebanggaan dan patriotismenya dengan mendatangi tempat perundingan, yaitu markas Kempetei yang selama ini dianggap sebagai lambang kekejaman tentara Jepang di Pekalongan . Saat itulah masa yang sudah tidak sabar menyerbu markas tempat berlangsungnya perundingan tersebut , baik tua maupun muda , laki-laki dan perempuan , yang datang tidak hanya dari dalam kota saja . Namun juga dari daerah Buaran dan Comal . Sekonyong-konyong terdengar suara letusan senjata api dan teriakan untuk menyerbu tentara Jepang . Suasana menjadi kacau .

Penurunan Bendera Nippon
Dua orang pemuda , Rahayu dan Bismo dengan berani menurunkan bendera Jepang dan menggantinya dengan menancapkan Merah Putih diatas atap markas Kempeitai. Tindakan itu dilakukan lantaran saat perundingan mengenai pengambilan kekuasaan di Pekalongan , sama sekali tidak membuahkan hasil . Setelah penurunan dan penyobekan bendera Jepang , pertempuran antara para pejuang dan tentara Jepangpun tak terelakkan .

Para pejuang di daerah itu , yang sebagian besar merupakan pemuda setempat langsung menyerbu markas Jepang dengan senjata seadanya . Mereka berusaha merebut dan merampas senjata penjajah . Sebaliknya , tentara Jepang dengan senjata yang cukup lengkap , membalasnya dengan tembakan dan bom untuk melumpuhkan para pejuang . Dari pertempuran yang terjadi pada tanggal 3 Oktober 1945 , sebanyak 37 pemuda Pekalongan gugur. Sedangkan 12 lainnya mengalami cacat fisik . Pejuang yang gugur di medan perang , esoknya dimakamkan di Kampung Panjang , yang sekarang dijadikan makam pahlawan " Prawiro Rekso Negoro ".

Pada tanggal 7 Oktober 1945 , akhirnya tentara Jepang meninggalkan Pekalongan untuk bertolak ke Purwokerto. Tindakan itu dilakukan karena mendapat instruksi pemimpin Jepang di Jakarta supaya meninggalkan Pekalongan . Sejak saat itulah Jepang sudah menyerahkan kekuasaannya kepada rakyat Pekalongan dan masyarakatpun menyambutnya dengan suka cita.

                                                                               ***
Seperti itulah sekilas peristiwa heroik 3 Oktober 1945 di Pekalongan . Pun demikian , dengan untaian bunga mawar dan melati yang semerbak harum mewangi , melambangkan keharuman jiwa yang luhur . Semerbak bunga Bangsa , yang telah gugur dalam membela dan mempertahankan Ibu Pertiwi , selalu tercium di seantero persada tercinta . Tetesan darah yang membasahi bumi Nusantara , merupakan suatu bukti pengorbanan yang mulia. Merupakan suatu saksi dan prestasi yang nyata . Dan akan terus terukir dalam lembaran sejarah .

Coba renungkan kembali ... Pengibaran bendera oleh Rahayu dan Bismo merupakan simbol semangat Nasionalisme yang berkobar dari jiwa muda , mempertahankan idealisme tanpa gentar menghadapi risiko yang akan diterima .

Dalam hal ini ada kejadian yang menarik perhatian kita , yaitu adanya pengibaran Bendera Merah Putih diatap markas Kempeitai yang dilakukan oleh kedua pemuda tersebut . Apa sesungguhnya yang mendorong timbulnya peristiwa pengibaran bendera tersebut ?

Keberanian mereka patu dicatat sejarah. Karena semangat juang yang pantang menyerah , akhirnya membuahkan hasil juga . Penjajah menjadi kualahan dan payah mengahadapinya.

Itulah yang sepatutnya kita contoh. Bangsa kita tidak mau dijajah , Bangsa kita tidak mau diatur dan diperintah terus menerus . Bangsa kita haus akan kemerdekaan yang haqiqi . Bukankah kemerdekaan adalah hak segala bangsa ?

Usaha menghargai jasa pahlawannya, oleh masyarakat di buatlah monumen sebagai tanda kebesaran perjuangan rakyat mengambil alih kekuasaan dari tangan Jepang di Pekalongan . Monumen perjuangan 3 Oktober 1945 , semula didirikan dihalaman bekas markas Kempeitai dan masuk dalam situs sejarah. Namun karena beberapa faktor , monumen dipindahkan di sebrangnya , sebelah THR . Sedangkan Lokasi gedung pemuda dan monumen perjuangan 45' dan situs sejarah berupa markas kempeitai sekarang sudah menjadi masjid yang cukup megah , yang diberi nama Masjid Syuhada' .

Terakhir , marilah kita bersama-sama membangun jiwa raga dan negara Indonesia tercinta dengan penuh semangat . Maju terus pantang mundur dalam membela keadilan dan kebenaran . Bukankah pepatah mengatakan " Beranilah karena benar , takutlah karena salah " . Melangkah bersama menuju cita-cita menjunjung martabat bangsa dan negara tercinta .


Sumber : Wawancara dengan Bapak Suhardi (Pasi Min Kodim Manunggal 710 Pekalongan) dan ditambahkan dari berbagai sumber. 

Thursday, June 28, 2018

KH ABDUL WAHAB CHASBULLOH ( Perintis Jurnalis Pesantren )

Bagi masyarakat pondok pesantren , terutama warga Nahdlatul Ulama' , nama KH Abdul Wahan Chasbulloh tentu tak asing lagi. Kiai kelahiran Tambakberas Jombang Maret 1888 M ini merupakan salah satu tokoh sentral pendiri NU. Kepribadian yang multikultural! Pengetahuan yang arif , serta kaya pengalaman hidup menjadikannya sebagai sosok yang sangat disegani dan dihormati. Karena itu, agak sulit menemukan padanan kata yang tepat untuk mendiskripsikan, meminjam istilah KH Abdul Wahid Hasyim , " Kiai merdeka " ini . Justru hal itu mengindikasikan betapa beragamnya pesona Kiai Wahab yang layak kita teladani . Dan, tepat pada penanggalan 29 Desember, 42 tahun silam , kiai yang konon masih bersambung nasab pada Lembu Peteng, salah seorang raja Majapahit, ini wafat. Ssebagai bakti hikmat serta niat tabarukan , sudah sepatutnya kita menimba sawab berkah Kiai Wahab untuk direfleksikan.

Kiai Wahab boleh dibilang " anak emas " pesantren . Ia lahir di pesantren , dibesarkan (di) pesantren , sekaligus mencerap ilmu dari pesantren ke pesantren. Misalnya , pesantren Langitan Tuban , Pesantren Mojosari Nganjuk , Pesantren Tawangsari Surabaya , Pesantren Bangkalan Madura , Pesantren Tebuireng Jombang , hingga Makkah al-Mukarromah. Atas dasar inilah bisa dimaklumi jika beliau terobsesi untuk memberdayakan segenap potensi pesantren .

Selain dikenal pemikir ulung dan organisatoris andal , Kiai Wahab juga memberi perhatian serius terhadap forum pergesekan wacana dan aktivitas jurnalistik. Sebuah forum diskusi " Taswirul Afkar " yang dirintis bersama Kiai Mas Mansur , sahabat karib semasa menimba ilmu di Makkah , pada tahun 1914 adalah tamsil yang tepat .

" Taswirul Afkar " mengedepankan prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat . Karena itu , dalam waktu singkat forum ini mampu memagut simpati kaum muda NU untuk terlibat aktif di dalamnya . " Taswirul Afkar " menjadi ajang jual-beli gagasan guna merumuskan solusi kontekstual doktrin agama atas sejumlah permasalahan krusial tempo itu .

Bagi Kiai Wahab , forum diskusi yang mengagungkan kekuatan lisan dianggap belum cukup ampuh untuk memecahkan persoalan . Oleh sebab itulah ia gelisah . Syahdan , hingga pada suatu malam yang hening selepas shalat tahajut , ia menerima " wangsi " sebuah keris . " Kalau kita mau keras , harus punya keris ! " batin Kiai Wahab .

Keris tersebut diterjemahkan Mbah Wahab sebagai pena. Maka , terbesitlah ide brilian bahwa untuk mengabdikan gagasan nanti mesti ditempuh melalui tulisan . Setelah bermusyawarah bersama sejumlah kyai NU lainnya , Kiai Wahab pun membeli percetakan berikut sebuah gedung sebagai sentra aktivitas NU di Jalan Sasak 23 Surabaya .

Sejak saat itu terbitlah majalah paruh bulanan Suara Nahdlatoel Oelama dengan Kiai Wahab sebagai pemimpin redaksinya . Majalah ini berumur hampir sewindu sebelum disempurnakan Kiai Mahfudz Shidiq menjadi Berita Nahdlatoel Oelama . Inisiatif Kiai Wahab ini telah melahirkan penulis ternama semisal Saifuddin Zuhri , Mahbub Junaidi , dan Asa Bafaqih . Dan , yang jelas budaya menulis lantas menjadi tradisi yang otonom di kalangan kyai NU saat itu .

Rekronstruksi Paradigmatik
Setelah jagad NU " ditinggal " Kiai Wahab lebih dari tiga dasawarsa , terjadi pergeseran paradigmatik yang amat memprihatinkan . Para kiai sebagai pilar NU sebagian besar terjebak dalam permainan politik praktis , sementara sebagian yang lain sibuk bernostalgia dengan asyik menekuni khazanah warisan Tomur Tengah (baca : kitab kuning) di pesantren masing-masing tanpa melakukan pembacaan kritis .

Forum " Bahtsul Masail " yang rutin digelar tak lebih sekedar media justifikasi kitab kuning yang diasumsikan berlaku universal (baca : shalih likulli zaman wa makan) . Sejumlah persoalan kontemporer disolusikan pada warisan literer berabad-abad silam yang memiliki miliu dan faktisitas yang berbeda .

Maka dari itu , kegelisahan Kiai Wahab untuk melakukan kontekstualisasi doktrin agama pada zamannya harus dipahami sebagai usaha rekontruksi teks-teks keagamaan . Kitab kuning , dalam hal ini , harus diletakkan sebagai produk budaya yang meruang dan mewaktu dan selayaknya dikritisi dari perspektif kekinian . Dari sinilah terjadi dialektika sinergis yang menurut Hegel , bersumber dari teori tesa-antitesa-sintesa untuk melahirkan kebaruan pemikiran sesuai dengan tuntutan zaman .

Namun ekspektasi itu terasa jauh dari kenyataan ketika menilik tradisi menulis kiai NU kian surut . Memang masih ada segelintir kiai, semisal Gus Sholahuddin Wahid (Jombang) , Gus Dur (Ciganjur) , Gus Nasrudin Anshori (Imogiri) , Gus Ali Mashuri (Sidoarjo) , Kiai Zawawi Imron (Madura) , Gus Musthofa Bisri (Rembang) , dan Gus Wahib Wahab (Mojokerto) , yang konsisten memancangkan tradisi menulis. Tapi jumlah itu hanya seujung kuku jika dibandingkan ribuan kiai NU yang membiak di seluruh Indonesia. Seandainya Kiai Wahab mengetahui kondisi ini niscaya akan menangis . Tradisi menulis yang susah payah ditegakkan pelan-pelan diabaikan .

Barangkali para kiai NU saat ini terbelenggu paradigma primitif bahwa menulis sebagai bukti eksistensi kekinian mesti menggunakan bahasa Arab seperti kitab kuning . Paradigma ini perlu diluruskan. Dulu anggapan akan kedekatan bahasa Arab dengan Islam masih kental dan hidup di tengah masyarakat . Hatta labuda , karya-karya tulis ulama pun disusun menggunakan bahasa ini (Faizi, 2007) .

Oleh karena itu , jika yang dimaksud kitab kuning adalah buku berbahasa Arab , tentu kita juga harus mafhum , betapa sulit untuk menuliskannya sekaraan di saat kita telah mengenal dan menjadi pemakai aktif bahasa Indonesia sebagai lingua franca . Mungkin ini sebuah kelakar , tetapi faktor ini pun jelas punya peranan penting , mengapa kitab-kitab tersebut sulit dijumpai sekarang. Karena ternyata telah terbukti , banyak kiai yang memilih untuk menulis buku dengan bahasa Indonesia meskipun mereka jga cakap dan jaduk dalam menggunakan bahasa Arab , seperti Kiai Mujab Mahalli (Bantul) , Gus Zainal Arifin Thoha (Yogya) , Kiai Bahauddin Mudhori (Sumenep) , dan Kiai Muhyiddin (Jember) . Dan , bukankah buku-buku tersebut juga akan disebut kita saat di-Arab-kan ?

Mencermati fenomena ini sudah sepatutnya para kiai melakukan instropeksi . Sebagai khidmat ta'dhim terhadap Kiai Wahab , tradisi menulis harus digalakkan. Tak perlu mukuk-muluk dengan (harus) menggunakan bahasa Arab bila khawatir dianggap tidak representatif (ghoiru mu'tabar) . Dengan bahasa lokal (nasional atau daerah) , karya tersebut akan lebih efektif dan dibaca masyarakat seantero negri ini . Jika memang karya itu bermutu , orang akan senang membaca dan jika perlu menerjemahkannya ke pelbagai bahasa .

Oleh : Saiful Amin Ghofur , Guru Luar Biasa Ponpes Roudlotul Nasyi'in Beratkulon Mojokerto. 

(Sumber : buku Gerakan Santri Menulis , Sarasehan Jurnalistik Ramadhan 2010 , Suara Merdeka)

Thursday, June 21, 2018

Hadits Futuristik

Hadits-Hadits Futuristik dan Penyikapan Terhadapnya

Pada suatu kesempatan di dalam kuliah, salah satu dosen kami, K.H. Arif Chasanul Muna, M.A menyampaikan beberapa klasifikasi hadits berdasarkan topik pembahasannya. Minimal, ada 4 klasifikasinya, yaitu:

1. Hadits-Hadits Akidah. Hadits-hadits ini bertemakan tentang akidah-akidah yang harus diyakini ummat Islam, seperti tentang keberadaan Allah, kekuasaan Allah, sifat-sifat Allah, dan lain sebagainya

2. Hadits-Hadits Ibadah. Hadits-hadits ini berbicara tentang ibadah dan tatacaranya, seperti sholat, zakat, puasa, haji, dan lain sebagainya

3. Hadits-Hadits Akhlak. Rasulullah bertugas untuk mengajarkan akhlak yang mulia. Tentulah hadits-hadits seperti larangan marah, berbuat baik dengan tetangga, dan sebagainya pernah terucap dari lisan mulia beliau, atau tercontohkan dari perbuatan, maupun ketetapan-ketetapan beliau

4. Hadits-Hadits Futuristik. Beberapa kali, Rasulullah meramalkan tentang masa depan. Beberapa hadits fututistik adalah seperti hadits 'Ummatku akan terpecah', hadits tentang khilafah, tentang hari kiamat, dan lain sebagainya.

Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa pemahaman yang benar adalah memegang teguh hadits-hadits akidah dan ibadah, kemudian hadits-hadits akhlak yang pula harus berusaha kita amalkan. Adapun hadits-hadits futuristik merupakan hadits-hadits yang mempunyai banyak penafsiran, multitafsir, sehingga kita harus berhati-hati dalam menyikapinya.

Fenomena zaman ini sering terjadi pemutar balikan tempat. Sering, orang menganggap *hadits-hadits futuristik* dianggap sebagai *hadits akidah* yang harus mereka pegang teguh. Sebagai contoh, hadits mengenai khilafah dan terpecahnya ummat, terdapat beberapa penafsiran yang dibahas oleh para ulama. Mereka meyakini bahwa penafsiran mereka tentang hadits tersebut sudahlah *final* dan harus diyakini dengan sepenuh hati.

Dalam problem hadits perpecahan ummat menjadi 73 golongan, misalnya, sebagian kaum muslimin menganggap bahwa aliran mereka adalah *firqah an-najiyyah* atau *golongan yang selamat*. Padahal, terdapat sedikitnya 4 sikap dan penafsiran terhadap hadits tersebut.

Contoh lain, hadits tentang *ghuraba*, atau orang yang terasing dalam mengamalkan sunnah Rasulullah. Sebagian mereka menganggap bahwa masa ini adalah masa yang dimaksud Rasulullah dan menganggap bahwa diri mereka adalah orang asing yang memperjuangkan sunnah di tengah dunia yang penuh bid'ah. Mereka meyakini itu seperti akidah, ataupun keyakinan yang harus mereka yakini kuat-kuat.

Padahal, hadits-hadits futuristik haruslah diletakkan pada tempatnya. Perbedaan penafsiran pada hadits futuristik hendaknya janganlah dipegang sepenuhnya, sama seperti kita memegang teguh hadits tentang akidah. Contohnya, kekhilafahan Abbasiyyah pernah menganggap bahwa merekalah pembawa bendera hitam dari timur dan menyebarkan propaganda menggunakan hadits Imam Mahdi untuk kepentingan mereka.

Lalu, apakah kita akan sama-sama termakan issue dengan istilah Dajjal, kaum Turk yang dianggap orang Cina, dan Ghuraba yang dilegitimasi oleh sebagian kelompok, tanpa mencoba melihat penafsiran dari berbagai sudut pandang, dan menjadikannya hadits-hadits akidah?

Oleh :
     Muhammad Ibnu Salamah
(SANTRI HADITS PEKALONGAN)

Wednesday, April 19, 2017

Sumur Keramat (Masjid Jami' Wonoyoso)

Jum'at Kliwon , atau biasa disebut oleh warga Wonoyoso , Kliwonan , mempunyai sejarah yang sngat luar biasa. Berawal dari pembuatan Masjid Jami' Wonoyoso yang dibangun oleh para Waliyulloh dengan disertai do'a , dan ternyata air sumur yang ada di masjid tersebut bermanfaat (keramat) bagi warga sekitarnya .
Tradisi Rabu Pungkasan 

Setiap Jum'at kliwon biasanya bisa dipastikan banyak warga memadati sumur bertuah di lingkungan Masjid Jami' Wonoyoso Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan . Bahkan warga yang datang bukan hanya dari Pekalongan saja , namun juga dari luar daerah , seperti Pemalang , Batang dan sebagainya . Mereka mempercayai bahwa air sumur itu mempunyai khasiat untuk mengobati berbagai macam penyakit , memperlancar rizqi , dan mempercepat untuk mendapatkan jodoh .

Pernah juga ada cerita , seorang mahasiswi yang sangat sulit mendapatkan jodoh , mencoba berikhtiar mandi di sumur Masjid Jami' Wonoyoso tersebut . Tidak disangka , dengan izin Allah SWT , selang tiga hari kemudian ada seorang laki-laki yang melamar mahasiswi tersebut untuk dipinang (dinikahi) .

Dulu biasanya orang yang ingin mandi di sumur masjid jami' , sudah bisa datang sejak pukul tiga pagi . Tetapi , setelah dirasa mengganggu ketenangan warga sekitar Masjid , akhirnya ditentukan untuk di buka jam lima pagi atau setelah selesai sholat subuh . Ini dilakukan agar kondisi tetap mashlahah dan tidak mengganggu warga sekitar .

Peninggalan Wali
Sumur kramat di komplek Masjid Jami' Wonoyoso , merupakan peninggalan wali yang selama ini dipercaya memiliki banyak khasiat .

Masjid Jami' Wonoyoso termasuk masjid tertua setelah Sapuro dan Banyurip . Di Masjid Wonoyoso , terdapat dua sumur yang berada di sebelah selatan dan utara, yang masing-masing sumur tersebut memiliki sejarah . Konon katanya , sumur yang berada disebelah selatan (yang biasa untuk mandi pada hari Jum'at Kliwon) masih ada hubungannya dengan Mbah Wali Mayong yang merupakan murid dari Pangeran Diponegoro . Sedangkan sumur di sebelah utara, dibangun oleh orang china yang kebetulan singgah di desa Wonoyoso. Jadi umur sumur keramat di masjid itu sudah sangat tua . Karena keadaannya yang sudah tua dan lapuk , pada sekitar tahun 60-an , sumur yang ada di sebelah selatan pernah ambles , tetapi dapat diperbaiki kembali oleh warga , sehingga keramat sumur Masjid Jami' Wonoyoso sebagai peninggalan sejarah , sampai sekarang masih tetap ada .

Sumur "berkat" tersebut dibangun para ulama' sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat umum yang membutuhkan air untuk banyak keperluan , seperti membantu masyarakat saat musim kemarau tiba . Karena , meskipun musim kemarau panjang , sumur tersebut tidak pernah kekeringan . Air sumur itu , juga biasa dikenal oleh warga sekitar dengan nama air "Jan-jan" , karena memiliki beberapa khasiat yang mirip dengan air zam-zam di Makkah al-Mukarromah .

Sumur keramat Masjid Jami' Wonoyoso , dikunjungi masyarakat tidak hanya pada hari Jum'at Kliwon saja . Namun juga ramai dikunjungi , setiap akhir bulan shofar dan rabu pungkasan. Meskipun sebenarnya itu adalah tradisi .

Sumber KH. Ahmad Baghowi
( Dimuat di Buletin ATSAR MAS Simbangkulon edisi 020/2011 )

Wednesday, April 5, 2017

KH. MUSTHOFA BAKRI ( Tokoh Cerminan Belajar )

Seorang tokoh sekaligus sesepuh Pekalongan , KH. Musthofa Bakri, dilahirkan di Pekalongan, tanggal 9 Desember 1930 M. Bertepatan dengan  di adakannya  Muktamar Jam'iyyah Nahdlatul Ulama' di Kota Pekalongan .
Bakri, nama yang terletak dibelakang nama asli beliau merupakan singkatan dari B yang berarti Bin , A adalah Abdul Qodir (Ayah beliau) , dan K adalah Kerto (Kakek beliau). Sedangkan Ri merupakan singkatan dari nama ibunya , Hj. 'Umriyyah yang asli orang desa Jenggot Pekalongan Selatan.

PERISTIWA 3 OKTOBER 1945

Beliau belajar di sekolah rakyat (setingkat SD) pada waktu penjajahan Jepang . Tetapi beliau tidak menamatkan sekolahnya . Hanya sampai kelas 2 karena disuruh berhenti oleh ayahanda beliau yang khawatir dengan pengaruh Jepang. Pada saat penjajahan Jepang itu , anak pribumi yang sudah berusia minimal 15 tahun diharuskan wajib militer. Tetapi beliau memilih jalannya sendiri untuk masuk Hizbulloh yang pada waktu dikomandani oleh Pak Condro .
Berbeda dengan zaman sekarang , anak usia 15 tahun masih manja . Disuruh ngaji malah nonton TV. Kalau zaman dulu belum ada TV , yang menjadikan daya hafal orang-orang dulu kuat. Apalagi TV , listrikpun belum ada pada saat itu. Pada masanya, hanya diantara daerah Pringlangu sampai Banyurip saja yang sudah ada listrik . Berbeda dengan sekarang , yang gemerlapnya bisa dirasakan setiap malam.

Ketika merebut kemerdekaan , pada tanggal 3 Oktober 1945 , rakyat Pekalongan menyerbu markas Jepang yang berada di sebelah Masjid Syuhada' (Monumen) Pekalongan, dibawah komando Kyai Syafi'i Abdul Majid dan Kyai Akrom Hasani. Rakyat Pekalongan memakai bambu runcing . Sedangkan musuh sudah menggunakan senapan mesin dan meriam. Namun , hal itu tak membuat surut semangat rakyat Pekalongan . Hanya satu kata dalam keyakinan mereka , Merdeka .

PENDIDIKAN BELIAU

Beliau belajar Al-Qur'an langsung dari Kyai Syafi'I Abdul Majid dan juga menambah pengetahuan umumnya di SLTP. Kemudian , melanjutkan ke Pesantren pada tahun 1948 - 1953. Pada tahun 1953 itulah beliau boyong , disuruh pulang oleh orang tuanya untuk dinikahkan dengan Hj. Nasi'ah.
KH. Khudlori Tobri adalah teman beliau sewaktu mondok di Kaliwungu. Ketika KH. Khudlori masuk itulah , bertepatan dengan tahun dimana beliau boyong .

Beliau juga merupakan seorang aktifis organisasi , khususnya organisasi dibawah naungan Nahdlatul Ulama' . Terbukti , dulu aktif di GP. Anshor dan sekarang menjadi Ro'is Suryah PCNU Kota Pekalongan 2 periode , yang berakhir pada tahun 2012. Dari progam PCNU Kota Pekalongan , beliau telah berhasil membangun Gedung Aswaja. Gedung Aswaja ini , dilengkapi dengan ruangan kantor NU beserta banom-banomnya, lapangan tenis, kantor BMT yang menambah investasi. Tak ketinggalan pula , beliau mengadakan diklat-diklat untuk pengkaderan yang dilaksanakan setiap satu tahun dua kali.
Beliau juga mengatakan , rapat NU yang diadakan di ranting atau dimanapun , mestinya harus ada Suryah dan Tanfidziyah ( Ro'is, Katib , Bendahara ) . Beliau sedih ketika waktu rapat , pengurus tersebut tidak hadir. Beliau juga mengatakan bahwa NU akan selalu hidup jika ada Bahtsul Masa'il.

Hobi beliau sendiri adalah membaca buku dan karya tulis dari cendekiawan atau Ulama' Muslim . Beliau teringat ketika zaman Jepang dulu , bahwa kertas yang dipakai itu memakai merang (tangkai padi). Setelah menulis , catatan itu akan dihafal dan kemudian dihapus , untuk mencatatan pelajaran yang lain.

Diakhir wawancara , beliau berpesan :
" Apapun yang diberikan Madrasah , tekunilah. Jangan menengok kebelakang dan resapi serta pahamilah ilmu yang didapatkan . Serta , kuasailah pengetahuan sebanyak-banyaknya . "

(Data search Team : Ahmad Sofyan Hadi , Muhammad Daris Fithon , Faidlurrohman , Samsul Ariski)
Sumber : Buletin ATSAR MAS Simbangkulon edisi 19 / 2011.

Tuesday, April 4, 2017

Ku Izinkan Engkau Menikahinya


"kamu kenapa yang?" tanya Galih bingung.
Hasna tersenyum tapi sedikit di paksakan, "aku gapapa Mas"
"jangan bohong Hasna" telusuk Galih kepada istrinya.
Hasna terdiam, 
"Hasna.. " Galih semakin penasaran
Hasna menunduk, pelan Ia mulai terisak.
"Hasna, kamu kenapa, bicaralah, jangan membuatku bingung sperti ini", Galih semakin bingung dengan istrinya.
Hasna meraih dan kemudian menggenggam erat tangan suami tercintanya itu, dengan berisak sembilu Hasna mengecup punggung tangan suaminya dan mulai menuturkan,
"entah.. aku harus bersikap bagaimana, entah aku harus berucap syukur atau bagaimana, semalam selepas aku memejamkan mataku, aku bermimpi melihatmu dengan perempuan lain berkunjung ke Baitulloh, memenuhi panggilan Alloh, menunaikan rukun-rukun haji bersama dengan perempuan itu.." Hasna menyeka airmatanya,
"lalu samar-samar kudengar suara 'ijinkan suamimu berangkat bersamanya' terus dan berulang, aku mengejar bayanganmu dan perempuan itu, tapi seperti halnya bayangan semakin ku kejar, semakin tak dapat aku menemukanmu. hatiku sakit Mas, kau tau itu, tapi aku bingung."
Galih nampak tidak percaya, kemudian ..

***

....kemudian Hasna meneruskan tuturnya,
"Mas, apa kau menyayangiku?" di iringi tangis Hasna mencoba menguatkan diri.
"sayang, apa maksudmu? tanpa kau ta.."
"apa kau menyayangiku?"
Galih menghela nafas,
"teramat sangat menyayangimu"
Hasna tertunduk, bahunya semakin berguncang, Galih semakin tak kuasa melihat istri tercintanya menahan pilu, Galih mendekap istrinya itu dengan sangat erat, tanpa ingin ia lepaskan barang sedetik saja.
Hasna menyeka butir lembut di pipinya,
"Mas Galih, tentunya kau sangat tau seperti apa aku mencintai dan menyayangimu, mestinya kau juga tau apapun akan aku lakukan demi melihatmu bahagia, dan tentunya akupun tau kebahagianmu ada dalam keluarga kita, tapi Mas, untuk kali ini saja, apa kau mau melakukan sesuatu untukku ?"
mencoba tegar Hasna bertutur lembut kepada suaminya, sementara Galih, hanya diam dan semakin memperat rengkuhannya,
"Mas.." lirih Hasna 
Galih menarik nafas berat, kemudian perlahan melepaskan pelukannya, lalu memegangi pipi istrinya dan menatap dalam kedua matanya,
"Hasna, istriku, ucapmu sangat benar, kamu bahagiaku, keluarga kita adalah kebahagianku, tidak ada yg lebih mmbuatku bahagia kecuali senyummu dan keluarga kita, kaupun tau apapun maumu selagi aku mampu akan aku penuhi. kau pula tau aku tak mampu melihatmu menangis seperti ini, sekarang apa maumu Hasna, aku akan turuti."
Galih menatap lekat mata istrinya, sedangkan Hasna, semakin tak mampu membendung luapan tangisnya, Hasna memeluk suaminya dengan sembilu yang seolah mengiris bathin,
"Mas,aku sangat menyayangimu.."
Galih semakin bingung, kemudian mengecup kepala istrinya,
"sayang, tenanglah, aku suamimu selalu bersamamu,"
kemudian dengan mantap Hasna mengatakan,
"aku mau kau berangkat ke Tanah Suci dengan perempuan yang ada di mimpiku"
"apaa?" Galih melepaskan pelukan kemudian menatap Hasna.
"itu tidak mungkin Hasna, dari dulu impianku bisa berkunjung ke Rumah Alloh hanya denganmu, bukan orang lain"
"aku mengerti Mas, tapi aku belum ditakdirkan untuk bisa pergi ke Baitulloh, Alloh belum mengijinkan Mas, aku percaya mimpi itu merupakan petunjuk dari Alloh sekaligus teguran untukku, untuk bisa lebih mendekatkan diri kepadaNya sebelum aku di ijinkan untuk bisa bertatap muka dengan Ka'bah" 
"apa maksutmu Hasna, mimpimu itu hanya bunga tidur, Alloh Maha Tau maksud hambaNya, kau hanya kecapean, hanya butuh beristirahat, tidak Hasna, apapun yg terjadi aku tetap pergi ke Baitulloh, bersamamu."
"Mas, kau sudah berjanji akan menuruti keinginanku, kau pasti sanggup mas, kau bahkan mampu untuk itu,"
"kau ini bicara apa Hasna, kau bilang aku harus berangkat ke Tanah Suci dengan perempuan yang siapa dia saja aku tak tau, dan kau memintaku untuk menunaikan ibadah haji bersamanya sedangkan kau istriku sendiri malah aku tinggal, permintaan macam apa ini sayang?" emosi Galih semakin memuncak.
"kau kenal dia Mas, kau sangat paham siapa dia, dia...."
tutur Hasna tertahan seolah lidahnya tak mampu untuk berucap,
"diaa.."

***

...Hasna memperlambat tuturnya,
"dia siapa Hasna?" Galih tak sabar menunggu jawaban Hasna.
"Alloh.. bismillah.." lirih Hasna berucap di ujung bibirnya.
"dia Naima Mas, mantan kekasihmu dulu"
"apa?" ucap Galih lirih hampir tak terdengar. tak berdaya, remuk, semua menjadi kalang kabut di hadapannya. Istrinya sendiri memintanya untuk menjalankan ibadah haji bersama dengan mantan kekasihnya dulu, apa yang ia rasakan sekarang, bukan sakit, bukan kecewa, bukan terluka, tapi lebih dari itu. Di rengkuhnya tubuh istrinya itu, di peluknya erat seolah ia tak mampu membayangkan dan merasakan perasaannya dan perasaan istrinya tersebut.
"Hasna istriku..."
Galih mempererat rengkuhannya, sementara Hasna, terus terisak di pelukan Galih.
detik kemudian berganti menjadi menit, seperempat jam berlalu dengan kecamuk di benak Galih dan Hasna. 
"astaghfirulloh.." ucap Hasna bercampur dengan isak tangisnya.
Galih mengecup kepala istrinya, lama.
~
"Mas.." Hasna membuka pembicaraan.
"iya."
"apakah kau sud..dah.."
"jawabanku tetap sama Hasna, aku berangkat bersamamu"
"tapi Mas, ini bukan sekedar permintaanku saja, tapi ini petunjuk Alloh melalui mimpiku,"
"petunjuk apa yang kau maksud Hasna? petunjuk agar aku tega meninggalkanmu sendirian dan berangkat haji bersama perempuan yg kehadirannyapun tak pernah aku inginkan?"
"istighfar Mas, kau tak pernah mengajariku untuk suudhon, apalagi kepadaNya"
"astaghfirullohh..." Galih mengusap wajahnya lalu mnghela nafas berat.
"Hasna, kau bidadariku, di dunia dan juga kelak di kampung surga. aku selalu brdoa agar kelak dapat mengunjungi Rumah Alloh bersama bidadariNya, aku selalu brdoa di setiap tengadahku agar dapat memohon ampunan di hadapan Baitulloh bersama makmumku, lalu apa yang salah dalam doaku Hasna, katakanlah..." Galih tertunduk.
Hasna menarik nafas kemudian beristighfar,
"aku mengamini setiap doa sejengkal di belakangmu Mas, aku tertunduk mengharap ijabah dalam setiap tengadahmu, dan doakupun sama denganmu, ingin menjadi satu-satunya makmum yang kelak di pertemukan denganmu oleh Alloh di surgaNya. Tapi Mas, ini permintaanku atas petunjuk Alloh, hanya ini."
~
Hari pemberangkatanpun tiba, Hasna tersenyum pilu, Galih menggandeng erat tangan istrinya, di salaminya keluarga satupersatu, berpamitan dan meminta doa restu.
Seperempat jam kemudian Galih dan Hasna beserta keluarga memasuki mobil yang akan mengantarkan mereka ke asrama haji.
Selama perjalanan menuju asrama, genggaman Galih tak mau lepas dari tangan istrinya.
"Hasna..."

***

Sepulangnya dari asrama haji, Hasna istirahat di selasar rumah, sembari memandangi anaknya dengan kedua anak Naima bermain di halaman.
Fandi, anak sulung Naima berlari ke arahnya,
"tante, aku laper.." ucap anak 9 tahun tersebut.
Hasna mengelus rambut Fandi dengan sedikit mensejajarkan posisinya,
"Fandi mau makan? ayo tante temenin, dik Feni mau maem juga nggak? gih tanyain .."
"nggak Tante, Feni nya belum laper."
"yaudah ayo maem sama Tante," Hasna tersenyum penuh kasih.
~
Hasna menunggui Fandi makan di meja makan, sangat lahap, Hasna tersenyum sembari mengelus kepala Fandi.
"Tante, terimakasih ya..", ucap Fandi di sela kunyahannya.
"terimakasih untuk apa sayang ?"
"terimakasih karna sudah nemenin Fandi makan, kalau sama Umi Fandi nggak pernah di giniin, malah sering di marahi kalau Fandi minta temenin makan.. kata Umi, Fandi harus mandiri, nggak boleh manja", tutur Fandi polos.
Hasna terdiam mendengar penuturan Fandi, kemudian tersenyum menenangkan diri,
"ah, mungkin Umi nggak mau kalau Fandi nantinya jadi manja, kan Umi sibuk, nggak bisa kalau harus nemenin Fandi makan setiap harinya, sudaahh .. gak boleh berburuk sangka sama Umi, Umi cuma kawatir kalau Fandi besar nanti, Fandi masih tetap bergantung sama orang lain, oke pinter?"
Fandi hanya tersenyum dan mengangguk.
~
setiap hari aktifitas Hasna adalah mengurusi ketiga anak, dari mulai membangunkan, menemani mereka mandi, sarapan, berangkat sekolah, menjemput ke sekolah, sampai menunggui mereka terlelap dalam tidur. seperti itu , berulang, selama satu bulan. 
saat Hasna menemani mereka sarapan pagi, Fandi nangis minta di belikan kerupuk, karna Fandi tidak bisa makan kalau tidak ada kerupuk.
"anak ini seprti Mas Galih saja kalau makan harus ada kerupuk."
~
sebulan berlalu, hari kepulangan Galih,Naima juga jamaah haji yang lainnya pun tiba.
Hasna beserta keluarga menjemput Galih dan Naima di tempat yang sudah di tentukan. Selang beberapa menit setelah Hasna dan keluarga sampai di tempat penjemputan, Galih dan Naima tiba,
"ahlan wasahlan bihudzurikum Mas.. alhamdulillah ahirnya Mas dan Naima sampai dengan selamat" senyum Hasna sembari mecium punggung tangan suaminya.
Galih trsenyum, sangat bahagia karna risalah kerinduannya kepada Hasna telah tersampaikan, sambil memeluk Hasna Galih berucap,
"alhamdulillah sayang, rinduku terobati untuk cepat melihat senyummu" kemudian Galih tersenyum dan gayungpun bersambut, senyum Hasna menyungging untuk suami tercinta.
"assalamualaikum Mbak,"salam Naima kemudian mengecup tangan Hasna dan memeluknya.
"waalaikum salam Naima, bagaimana keadaanmu? sehat?"
"sehat Mbak alhamdulillah", senyum Naima juga menyungging.
sementara Galih melihat keakraban diantara Naima dan istrinya, entah mengapa Ia malah merasakan sakit, Galihpun memilih membuang muka dan memejamkan matanya.
~
"Umi, boleh nggak aku tinggal lebih lama dengan Tante Hasna?"
pinta Fandi, ketika sesampainya mereka di rumah.
"lhoh? jangan Fandi, kamu pulang sama Umi sama dik Feni, kamu nggak boleh nginep di sini, kalau mau main nggakpapa, nanti Tante Hasnanya repot kalau kamu nginep terus di sini,"
jawab Naima. Fandi tertunduk sedih.
Hasna berjongkok sejajar dengan Fandi, lalu membelai rambut halusnya,
"Fandi sayang, kamu boleh kok nginep di sini sesuka yang kamu mau, Tante seneng malah, beneran deh.. nanti Tante minta ijin sama Umi, yaa ?", Hasna mengerlingkan senyuman.
"tapi Mbak.." Naima menimpali.
"sudaahh, tidak apa.. lagian Agam pasti seneng kalau Fandi tinggal di sini, dia jadi ada temen", jelas Hasna.
"boleh ya Umi.. yaa ? ", rengek Fandi memohon.
~
2 minggu selama Fandi tinggal bersama Hasna dan keluarganya, Naima menjadi sering menengok anak sulungnya, yang kemudian menjadi penyebab amarah Galih.
"aku tidak suka kalau Naima sering kesini dengan alasan ingin menjenguk Fandi", ucap Galih tegas.
"Mas, Fandi itu anaknya, pantas saja kan kalau Naima ingin menemui Fandi", sergah Hasna.
"tapi aku tetap tidak suka kalau dia terus terusan kesini, dan Fandi yg di jadikan alasan"
"lalu menurutmu, Naima kesini mau apa lagi kalau tidak untuk menemui anaknya?"
Galih kikuk,
"sudahlah Hasna, pokonya aku tidak suka dia kesini terus menerus"
Hasna menghela nafas,
"Mas jawab aku, sebab apa kau sangat membenci Naima?"
"aku malas membahas perkara ini" jawab Galih sembari memalingkan wajah.
"jawab aku Mas!"
"Hasna, aku sudah tak mau membahas hal tak penting ini lagi,"
"kalau tak penting kenapa kau masih saja terbawa perasaan dengan Naima? harusnya kau tanggung jawab dengan ucapanmu Mas"
emosi Galih mulai memuncak,
"arghhh.. kau tak kan pernah paham Hasna.."
"heh? lelucon macam apa ini, aku istrimu Mas, kita sudah 8 tahun hidup bersama, tapi kau mengatakan, aku tak kan pernah paham denganmu? lalu apa gunaku selama 8 tahun ini?" Hasna tersenyum hambar "heh.. sangat lucu..".
Galih hanya terdiam, seperti merenung, kedua tangannya menutupi separuh wajahnya, hening.
"Hasna.."
panggil Galih, tetapi Hasna hanya diam memandang keluar jendela.
"apakah kau yakin ingin mengetahui sebabnya?", tutur Galih kembali. Hasna masih diam, menunggu kalimat Galih selanjutnya,
"sebenarnya..." ucap Galih tertahan, kemudian kembali hening, dan,
"sebenarnya aku .."
~

***

...."astaghfirulloh.." seketika tangis Hasna pecah. Langit seakan mau runtuh, awan putih tiba-tiba berubah warna, tiadapun hujan tapi guntur serasa menggelegar, kilatnya menyambar membelah ulu hati bak sembilu yg berkarat. Entah .... 
~
tumpuanku akhirnya tersedu,
seperti jari menari elok di ranting sendu
diksi noda tak laku dalam terlaku,
karena kelam.. bercokol sebab rindu.
oh pujaan .. 
kenapa dan apa aku memuja
kaupun tau ku tak mampu tuk jenaka
bahkan cadarku, berhelai smpai ke ruas roda
oh pujaan ..
sampaikah aku dalam ironi lagu ?
irama klasik dengan sajaknya yang syahdu ..
pun aku ,
bimbang lagi meng-enyah rindu.
~
"Naima.. maafkan saya..", beriring tangis Hasna memeluk Naima.
"Mbak Hasna kenapa?"
Hasna sesenggukan dalam rengkuhan Naima.
"Mbak, Mbak kenapa?"
"saya telah berdosa dengan kamu, tolong maafkan saya Naima.."
"dosa? dosa apa Mbak?"
"saya sudah merebut hakmu, Naima.. maafkan sa..ya.." Hasna semakin terguncang.
"Mbak Hasna.. " tangis Naima pecah, semakin di rengkuhnya erat tubuh Hasna.

***

"sudahlah Mas, aku sudah bicara dengan Naima, cepat atau lambat kau akan menikahinya." bergetar Hasna menuturkan keinginannya.
"kau ini apa-apaan Hasna ! aku tak pernah mengajarimu lancang sperti ini."
"kau juga yang mengajariku agar tak suka merebut hak orang lain Mas" airmata lekas bercucuran dari sudut mata Hasna.
"arrhhh..", emosi Galih memuncak.
"sudahlah Hasna, cukup aku bahagia denganmu. tanpa kehadiran oranglain, lantas kau menyuruhku berpoligami."
"kau..." tangis Hasna memekik ke seantero jagad, membilik dalam benak bertuan, dan.. berlayar perahu di daratan nun retak.



 ( Oleh : Arina Haq )

LOVE IS FREEDOM I

"yu Ti nangopo kok matanya berkaca-kaca kui ?"
yu Ti tanpa menjawab pertanyaan Laksmi , langsung menyeka air mata dari sudut keriputnya,
"yen mungguhmu, aku kui sih di cubo opo malah di nei rejeki Laks ?"
"loh, lapie tha yu ?"
yu Ti menerawang, meng-flashback atau mungkin malah seperti mengingat kejadian kemarin sore.
"anakku di lamar putune yai tenanan.." tutur yu Ti tertahan ,
"yakin yu ?" Laksmi kaget demi melihat ucapan yu Ti yang entah ini adalah kabar gembira atau kabar yang kurang menyenangkan.
"Alhamdulillah tha yu, aku ora iso ngomong iki , antara seneng karo setengah rangandel"
"aku ora takok awakmu ngandel gak e, seng tak takonke iki cubo opo rejeki , sedih tenan aku Laks.."
"loh malah? yo iki nikmat tha yu, gene malah cubo kui temu pirang perkoro ?"
"sawangen polahe ponakan mu, yen aku mbok sediani lameng , wis bubar gasik aku ngendat nggo lameng, wajahku pak selehno ngendi yen suk mben kedaden tenanan anak ku dadi mantu ne yai pondok keramat ngkono, aku isin Laks.. dudu aku gah, tapi aku isin .. isin nemen. "
Laksmi menarik nafas dalamdalam,
"Nuka ngerti lek dek e di lamar putune yai?"
"gak, durung tak omongno"
"anggo ne Nuka polah mpreman ngono kae mergo dek e gak ono sing ngerem, sampean opo tau nyengeni Nuka sing sak tenane nyengeni ? oratau tha?"
"aku kui dudu oratau Laks, tapi sayah , wis mumet"
"lah kui si yu, opo salahe ndongo apik gawe Nuka dadi karo putune yai? sopo weruh Nuka suk yen dadi bojo ne putu yai, dek e biso berubah?"
yu Ti diam, berpikir keras ..
 
*********
"awakmu , mben arep di nikah karo Gus Siraj" tutur yu Ti mantap kepada anak semata wayangnya, Nuka.
Nuka yang saat itu sedang meminum minuman bersoda langsung tersedak seketika.
"maksute opo iki buk ?"
"ora krungu sing ibuk ngomong ?"
"la emoh, wegah aku, aku sik durung pak nikah, kok ujugujug bae, gah aku , gah .."
"ora kaiki, sekarepmu, tapi ojo salahke ibuk yen mulai dino iki awakmu urep dewe." yu Ti mengeluarkan pisau tajam dari genggaman tangan yang hendak di hunuskan ke perut sbelah kirinya sndiri.

 *********

"kok njenengan saged seneng Nuka sing jare wongwong bajingan kui nangopo Gus? opo yo munu njenengan gak isin anggene nggadahi garwo kados Nuka ? Nuka sanes santri Gus, dek e gaweane mbonek i trek, klambi sing dinggo ni yo koyo brandalan ngono kae, ngerokok yo dek e tau ngrasake.. Ojo nganti njenengan gelo ."
yu Ti menuturkan perlahan perilaku Nuka kepada calon menantunya yang seorang putu kyai.
"ibu , kulo kepanggeh Nuka sanes wayah Nuka ngagem ageman sing sopan, tapi kulo kepanggih Nuka pas wayah ngagem celono sueksuek, jentik ngapit rokok, yo ugo Nuka mbonek pickup seng kulo setir, tapi kulo tresno Nuka bu.."
Gus Siraj menjawab dengan tenang.
yu Ti hampir saja meneteskan airmatanya, tiba-tiba .....

Bersambung ....
( Oleh : Arina Haq )


Thursday, March 3, 2016

Kisah Masuk Islamnya Orang Tionghoa setelah bertemu Gus Miek ( KH. Hamim Thohari Djazuli)

Dulu, ada seorang warga Tionghoa bercerita kepada ayah, "Gus Miek itu luar biasa..." begitu kalimat yang pertamakali ia ucapkan. Kemudian ia melanjutkan ceritanya: "Saya dulu pernah menderita sakit komplikasi. Semua rumah sakit unggulan di Indonesia angkat tangan. Sampai saya mencoba berobat ke beberapa tempat di luar negri, namun hasilnya sama. Semuanya angkat tangan. Tak sedikit biaya yang saya keluarkan."

"Bahkan saya sudah putus asa, tak tahu lagi mau berobat kemana. Namun, di tengah keputusasaan saya, ada salah seorang tetangga yang menyarankan saya untuk mendatangi orang pinter di Jawa Timur. Antara yakin dan tidak yakin, saya berangkat mencari alamat yang ditujukan," kenang orang tersebut.

Lanjutnya, "Sesampainya di sana, dan bertemu orang pinter yang dimaksud, saya mengutarakan semua keluhan saya. Beliau hanya menyarankan beberapa hal yang menurut saya tak ada hubungannya dengan penyakit yang saya derita. Setelah itu saya pulang, dan mempraktekan apa yang diperintah orang pinter itu. Meskipun sedikit tidak percaya."

"Beberapa bulan kemudian, saya ceck up ke dokter. Dan, betapa kagetnya dokter itu, tidak percaya bahwa penyakit saya sembuh total. Saya bahagianya bukan main," tuturnya sembari tersenyum.

"Kemudian, saya datangi lagi orang pinter tersebut dengan maksud berterimakasih. Setelah bertemu, saya tawarkan kepada beliau. 'Kiai, mau minta apa? Rumah? Mobil? Atau nominal uang? Terserah Pak Kiai'. Namun, beliau hanya berucap: 'Saya tidak membutuhkan apa yang Panjenengan tadi sebutkan. Saya hanya minta satu, Panjenengan masuk Islam. Bersyahadat'. Dan, dengan disaksikan beliau, saya bersyahadat dan mengikrarkan bahwa saya masuk Islam sampai sekarang." 

(Oleh: Muhammad Wamiq Hammadallah).